Minggu, 30 Juni 2013

Garut "The Swiss Van Java" in the West of Java




Kabupaten Garut, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat.  Ibukotanya adalah Tarogong Kidul. 

Sejarah Kota Garut

Sejarah Garut tak bisa dilepaskan dari Kabupaten Limbangan.                                                 Kabupaten Limbangan adalah Kabupaten lama yang ibukotanya dipindahkan ke Garut kini karena seringkali terjadi bencana alam berupa banjir yang melanda daerah ibukota. Selain itu, kurang berkembangnya pusat pemerintahan karena jauh dari sungai yang menjadi sarana transportasi dan irigasi areal pesawahan dan perkebunan. Bupati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia survei lokasi untuk ibukota kabupaten yang baru. Pilihan akhirnya jatuh di tempat yang dikelilingi gunung dan memiliki mata air yang mengalir ke cimanuk.  Tempat tersebut berjarak ± 17 km dari pusat kota lama.    

Saat menemukan mata air, seorang panitia kakarut (bahasa sunda : tergores) belukar. Orang Belanda yang ikut survei tak dapat menirukan kata tadi, dan menyebutnya gagarut. Pada awalnya, nama kabupaten yang ibukotanya telah dipindahkan tidak akan diubah, masih Kabupaten Limbangan. Namun, atas saran sesepuh hendaknya nama kabupaten diganti dengan nama baru sehingga tidak menimbulkan bencana dan malapetaka dikemudian hari seperti yang sering menimpa kabupaten Limbangan. Dari kejadian kakarut tersebut, yang dilafalkan oleh orang Belanda dengan gagarut, muncullah nama kebupaten baru, Garut. Hari jadi Garut diperingati setiap tanggal 16 Februari.

Letak Topografi

Pantai Santolo

Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit.

Kawah Gunung Papandayan

Gunung Guntur

 

 

 

 

 

 

Ibukota Kabupaten Garut berada pada ketinggian 717 m dpl dikelilingi oleh Gunung Karacak (1.838 m), Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), serta Gunung Cikuray (2.821 m) di selatan kota Garut.
Gunung Cikuray









        





















Makanan Khas Garut 

Kabupaten Garut memiliki makanan, minuman, dan buah-buahan Khas. Berikut daftar makanan, minuman, dan buah-buahan khas Garut : Ada Dodol Garut, Ladu Malangbong ,Kerupuk Kulit ,Pindang Ikan, Sambal Cibiuk, Es Goyobod, Jeruk Garut, Wajit, Awug, Burayot, Chocodot, Kupat Tahu, Lontong Kari, Darokdok, dll
























Produk Khas Garut

Dengan tangan ulet masyarakat Garut, Garut memiliki Produk yang Khas. Berikut daftar Produk Khas Garut :
Batik Garut
Aneka Produk dari Kulit












  • Jaket Kulit
  • Batik Tulis Garutan
  • Kulit Tersamak
  • Minyak Akar Wangi
  • Boboko Samarang
  • Batu Hias Bungbulang

 Wisata di Garut

Objek wisata yang ada di Kabupaten Garut adalah antara lain:

  • Leuweung Sancang
  • Pantai Cijeruk Indah
  • Pantai Karang Paranje
  • Pantai Sayang Heulang
  • Pantai Santolo
  • Taman Manalusu
  • Pantai Cijayana
  • Taman Ranca Buaya
  • Taman Golf Ngamplang
  • Air Terjun Neglasari
  • Kampung Dukuh
  • Curug Orok
  • Curug Sanghyang Taraje
  • Curug Cihanyawar
  • Gunung Papandayan
  • Taman Satwa Cikembulan
  • Golf Course Flamboyan
  • Kawah Darajat
  • Makam Godog
  • Talaga Bodas
  • Situ Bagendit
  • Curug Citiis
  • Curug Kancil Cibatu
  • Cipanas
  • Candi Cangkuang
  • Situ Cangkuang
  • Curug Cimandi Racun


















R.A Lasminingrat...siapakah Beliau?

Selain Dewi Sartika, Jawa Barat khususnya Garut mempunyai Pahlawan Nasional Wanita lainnya, Beliau adalah Lasminingrat atau Radén Ayu Lasminingrat (1843-1948), Beliau  adalah pahlawan pelopor kemajuan wanita Sunda dan pendiri Sakola Kautamaan Istri. 

R.A Lasminingrat adalah nama wanita puteri seorang Bupati Garut yang sudah fasih menulis buku untuk bacaan anak-anak sekolah. Jauh sebelum R.A Kartini lahir (1979) atau Dewi Sartika (1884) lahir., R.A Lasminingrat sudah menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku yang dijadikan buku bacaan wajib di HIS, Schakelschool, dan lain-lain, hingga akhir masa penjajahan Belanda. 

Namanya memang belum seharum Ibu Kartini atau Dewi Sartika, bahkan mungkin sebagian besar orang Garut saat ini tidak mengenal nama Beliau. patut disayangkan bahwa hingga saat ini Namanya belum juga dikukuhkan sebagai seorang Pahlawan Nasional, padahal  jasa beliau sebagai salah satu pionir dunia pendidikan di Indonesia pada masanya.
Beliau adalah tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia. Ada dua bidang yang menjadi perhatiannya, yaitu dunia kepenulisan/kepengarangan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Ia sangat peduli nasib kaum hawa, khususnya perempuan Sunda. 

Raden Ayu Lasminingrat lahir tahun 1843, putri seorang Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda yang terkenal pada zamannya, yaitu Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Setelah itu lahir pula dua orang adik perempuan yang seibu se-ayah, yaitu Nyi Raden Ratnaningrum dan Nyi Raden Lenggang Kencana. 
Lasminingrat kecil harus berpisah dengan keluarga dan pindah dari Garut ke Sumedang untuk belajar membaca, menulis, dan tak ketinggalan, mempelajari bahasa Belanda.
Di sana ia diasuh oleh teman Belanda ayahnya, Levyson Norman. Karena didikan Norman, Lasminingrat tercatat sebagai perempuan pribumi satu-satunya yang mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda pada masanya. Pada 1871 ia kembali dan menetap di Pendopo Kabupaten Garut.

Pada 1875 ia menerbitkan buku Carita Erman yang merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar dengan menggunakan aksara Jawa, lalu mengalami cetak ulang pada 1911 dalam aksara Jawa dan 1922 dalam aksara Latin.
Setelah karya tersebut, pada 1876 terbit Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I dalam aksara Jawa. Buku ini merupakan hasil terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872) dan beberapa cerita Eropa lainnya. Jilid II buku ini terbit setahun kemudian, lalu mengalami beberapa kali cetak ulang, yakni pada 1887, 1909, dan 1912, dalam aksara Jawa dan Latin.

Terobosan baru yang dicapai Lasminingrat di dunia kepengarangan adalah penggunaan kata ganti orang pertama. Mikihiro Moriyama dalam bukunya Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 mencatat bahwa ia merupakan penulis pribumi pertama menggunakan kata ganti orang pertama dalam tulisan berbahasa Sunda. Lasminingrat, tulis Mikihiro, memakai kata kula yang merujuk kepada saya dalam kata pengantar bukunya Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng yang terbit pada 1876. Buku ini merupakan kumpulan berbagai macam karya terjemahan. Dunia pendidikan
Setelah menjadi istri Bupati Garut RAA Wiratanudatar VIII, Lasminingrat menghentikan aktivitas kepengarangannya. Ia lalu berkonsentrasi di bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda (Moriyama, 2005: 243). Sejak kecil Lasminingrat bercita-cita memajukan kaum hawa melalui pendidikan.
Obsesinya ini terwujud pada 1907. Ketika itu ia mendirikan sekolah Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut. Di sekolah ini Lasminingrat memakai kurikulum. Tidak disangka, pada 1911 sekolahnya berkembang. Jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. Pada 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.

Di sekolah Keutamaan Istri, murid-muridnya diajari cara memasak, merapikan pakaian, mencuci, menjahit pakaian, dan segala hal yang ada hubungannya dengan kehidupan berumah tangga. Tujuannya, supaya kelak saat dewasa dan menikah, mereka bisa membahagiakan suami dan anak, juga mengerjakan sendiri apa saja yang berhubungan dengan rumah tangga.


Lasminingrat dikarunia usia yang sangat panjang. Ia meninggal dunia pada 10 April 1948 dalam usia 105 tahun setelah sebelumnya dalam perang kemerdekaan ia mengungsi ke Waaspojok pada 1946. Ia sempat tinggal di sana beberapa lama. Hingga akhirnya ia sakit dan mengembuskan napas terakhir di tanah kelahirannya, Garut.
Kalau RA Kartini dijuluki sebagai pahlawan emansipasi dan Dewi Sartika sebagai tokoh pendidikan, tidak berlebihan jika RA Lasminingrat dijuluki sebagai tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia karena pikiran-pikiran kritis dan modernnya telah melampaui zamannya.


Sumber tulisan :
  • RA  Lasminingrat, Tokoh Perempuan Intelektual Pertama - by FANDY HUTARI Penulis Lepas
  • Garut Junjung R.A. Lasminingrat Sebagai Pahlawan – Oky Lasmini Sastrawiguna
  • Kabupaten Garut - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia Bebas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar